Baca Juga
| The Family MCA |
Pada awalnya, MCA memulai kiprahnya di jejaring sosial pada saat kasus penodaan agama yang dituduhkan ke Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 2016 silam. Pada saat itu, grup tersebut semakin berkembang dan membuat Pilkada DKI semakin memanas. Grup MCA tersebut dikelola oleh Rizky Surya (Pangkal Pinang), Yuspiadin (Bandung), Ramdhani (Bali), Ronny (Palu), dan Muhammad Luthfy (Jakarta). Yuspiadin dan Ronny.
Setelah usai pada Pilkada DKI, MCA masih tetap eksis bergerilya di dalam media sosial dengan alasan membela ulama yang dikriminalisasi. Seorang 'sniper' dari grup MCA yang bernama Rizky Surya membenarkan hal tersebut.
"Pada dasarnya pembelaan terhadap Islam. Waktu itu beredar atau terjadi yang ditangkap oleh kawan-kawan ada ketimpangan masalah ulama yang dikriminalisasi,... MCA itu, secara nama, besarnya setelah Aksi 212. Kalau penamaan grup dengan nama MCA itu pada pertengahan 2017. Nah, waktu Pilkada DKI itu tetap ada pertentangan. Jadi kita melihatnya bisa seperti pemerintahan dan oposisi." ucap Rizky saat diwawancara.
Rizki menjabarkan pola dari gup MCA yang ia kelola. Ia menjelaskan bahwa grup tersebut tanpa bentuk, penerimaan anggota dalam grup Facebook pun terus menhingkat, nama MCA tercetus secara spontan.
"MCA ini OTB (organisasi tanpa bentuk). Semacam suatu gelombang yang naik terus. Individu-individu yang bergabung dalam suatu kelompok yang akhirnya membesar. Dasar awalnya yang saya tangkap dari peristiwa 411 dan 212. Seperti tercetus saja bahasa MCA. Pada Januari dan Februari 2017. Semuanya menamakan diri “kita MCA-MCA”. Grup bukan, orang bukan." Ujarnya.
MCA sendiri awalnya hanya berwadah di dalam grup Facebook, yang kemudian melakukan pengerucutan grup untuk membagi beberapa tugas dan membagnya menjadi beberapa bagian. Dalam setiap grup di dalam Facebook memiliki jumlah anggta yang berbeda-beda.
"Wadahnya saya rasa dalam grup (Facebook). Semakin berkembang ke sini, itu mengerucut kebanyakan bernama MCA Group. Kita bisa bilang MCA itu bukan satu grup. Grup MCA itu ada 30-an jumlahnya. Ada MCA New, MCA United. Ada MCA yang 1.000 member, 4.000 member, 6.000 member, 10 ribu member. Paling untuk mengenali grup MCA itu dari foto sampul." kata Rizky
Sebelum munculnya grup MCA di Facebook, mereka memiliki beberapa grup, namun kini grup tersebut telah tiada. Pada pertengahan tahun 2017, mereka mulai membentuk grup baru untuk manaungi anggota-anggota yang sebelumnya. Selain menyebarkan issue karangan yang dibuatnya, mereka juga kerap melakukan 'perang' terhadap akun yang mereka anggap sebagai lawan.
"Sekarang yang namanya grup MCA itu, perlu saya tekankan lagi, baru ada pada pertengahan 2017 ke sini. Dulu kita punya grup Pecinta FPI, Pecinta Habib Rizieq, Suara Rakyat, Suara Kedaulatan Rakyat, terus FPI Laskar Cyber, Kami Mencintai FPI, 212 Cyber Army. Itu semua sudah hilang..., Di belakang itu, yang tidak diketahui publik, adalah adanya perang akun antara yang pro dan kontra itu. Jadi ada saling ‘bunuh’ akun. Makanya, bisa dikatakan, MCA secara global ada yang bermain opini dan ada yang bermain perang akun atau sniper." Tambahnya.
Ramdahani selaku pengurus grup pun ikut menjelaskan tentang jobdesk MCA. Terkait hal tersebut, ia menyatakan bahwa setiap anggota tak memiliki tugas khusus, hanya menggiring untuk mengalihkan opini di dalam grupnya, serta membawa link atau screenshot untuk akun-akun lawan yang ingin dinon-aktfkan.
"Di grup opini itu kita nggak ada apa-apa, ya kita hanya mantau. Kita juga masuk ke grup-grup yang sering menista. Dari situ kita bisa tarik akunnya. Nah, kita juga ada jadwal perang tertentu. Misalnya jam subuh kita perang, pukul 13.00 WIB, dan pukul 20.00 WIB..., Khusus kami-kami ini, karena kami admin, kami serang admin lawan."
Saat ditanya bagaimana cara untuk bergabung ke MCA, Rizky hanya memilih berdasarkan agama yang seagama dengannya. Untuk perekrutan tim 'sniper MCA' pun tak harus memiliki keahlian dalam bidang IT.
"Tergantung. Kalau untuk opini itu biasanya diundang. Misalnya ini muslim, ya, diundang..., Nggak. Tapi kalau tip dan triknya ya banyak. Saya buka FB Anda, saya bisa tahu semua. Bisa lihat dibuatnya kapan, e-mail-nya, nomor teleponnya... Jadi saya ada grup namanya Akademi Tempur. Di sana saya bikin tutorial. Jadi sniper-sniper itu dilatih. Bagaimana cara nguatin akun, cari dan matiin akun." Ujarnya saat ditanya.
Pada saat ditanya tentang keterkaitannya dengan grup yang diciduk sebelumnya, yakni Saracen. Ramdhani menjawab tidak ada keterkaitan dengan MCA.
"Nggak ada. Garis juangnya saja beda. Mereka kan main di opini dan yang saya tahu mereka ambil alih akun, kan? Saya juga main di opini sih, tapi nggak terlalu sering."
Pernyataan sama juga diutarakan oleh rekannya, Rizky. Ia juga membantah jika MCA memiliki hubungan dengan Saracen. Mereka hanya menganggap Saracen sebagai senior dalam media siber.
"Nggak ada itu (kaitan). Cuma tahu saja ada Saracen dulunya. Itu senior. Kalau orang masuk di perang akun bilang "itu senior", "itu legenda". Yang saya tangkap, Saracen itu orang yang sudah lama yang main perang akun, hebat, bisa ambil alih grup, bisa ambil alih akun." ucap Rizky.
Sebelum diamankan aparat, Rizky merupakan seorang yang bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil di Pangkal Pinang. Sedangkan Ramdahani bekerja sebagai pramuniaga di wilayah Denpasar, Bali. Beberapa admin dari MCA ditangkap di daerah yang berbeda-beda. Salah satu temannya yang masih belum bisa dimintai keterangan yakni berada di Korea. Mereka hanya mengenal lewat jejaring sosial, tapi tak pernah bertatap muka secara langsung.
"Mohon ditulis pesan saya untuk teman-teman. Fitnah adalah kezaliman, hoax bisa dikatakan sebagai fitnah." ujar Rizky mengakui kesalahannya di Mabes Polri 5 Maret 2018.